 |
Aruh Ganal
Untaian janur menghiasi tiang-tiang yang terbuat dari bambu. Tegak berdiri ditengah bangunan rumah kayu besar atau balai, yang ditinggali oleh 6 keluarga. Bagi masyarakat Dayak, tinggal bersama adalah suatu kebiasaan, sampai salah satu keluarga mampu untuk membangun rumah sendiri.
Malam itu, seratusan warga suku Dayak Meratus yang menganut kepercayaan Kaharingan, berkumpul untuk melakukan upacara Aruh Ganal atau syukuran selepas panen padi, di Balai Cempaka, Desa Kamawakan, “Sebelum upacara ini selesai dilakukan, pantang bagi masyarakat Dayak untuk memakan hasil panen mereka” ujar Demang Udes (75), tetua adat Desa Kamawakan.
Sementara lelaki mempersiapkan ritual, wanita memasak hidangan untuk para tetamu. Anak-anak dan remaja yang bermain dengan HP dan Game watch, diselingi tawa lepas mereka. Jauh didalam hutan dimana sinyal telpon genggam tidak ada, hal ini menjadi unik.
Menjelang jam 9 malam, makanan mulai dihidangkan dan tetamu berkumpul untuk makan. Gulai Ayam dan tumis buncis memenuhi piring. Rokok juga diedarkan, bahkan anak kecil sekalipun ikut menikmatinya.
Setelah beristirahat makan. Upacara akan segera dimulai, dengan duduk bersila dibawah rangkaian janur, Demang Udes mulai membacakan mantera diatas tumpukan sesaji yang telah disiapkan oleh para wanita. Lantunan mantera berbahasa dayak diselingi tabuhan gendang, membuat suasana terasa magis.
Para lelaki mulai bersiap untuk terlibat dalam upacara, mereka akan bergantian mengelilingi rangkaian janur sampai matahari terbit.
Ditengah modernisasi yang mulai merambah rimba, suku Dayak Meratus yang tinggal di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, mencoba mempertahankan gurat tradisi mereka. |